by

Cerita Siswa SMK Fashion, Umur 16 Tahun Punya Clothing Brand Sendiri

FATIMAH al Zahra masih berusia 16 tahun. Namun dia sudah memiliki clothing brand sendiri bertajuk Zelmira.

Brand itu diciptakannya ketika masih duduk di kelas XI di SMK NU Banat Kudus, Jawa Tengah. SMK itu memang dikenal sebagai salah satu sekolah fashion.

Koleksi rancangan Fatimah telah ditampilkan di catwalk Mahakarya Vokasi bertajuk Vokasiland: Road to Hakteknas 2022 pada Kamis (28/7) di Grand City Mall Surabaya. Parade busana karya anak SMK NU Banat tersebut sekaligus menjadi pembuka rangkaian acara yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi. Acara itu memperkenalkan karya-karya inovasi teknologi dari peserta didik vokasi hingga Minggu (31/7).

Fatimah bercerita, awalnya lebih tertarik dengan dunia modeling dibanding fashion designer. Namun, karena tidak mendapat restu orang tua, Fatimah yang tinggal di Jepara akhirnya memutuskan untuk menekuni dunia fashion.

Passion-nya pada dunia fashion mulai muncul setelah dia memutuskan melanjutkan sekolah di SMK NU Banat Kudus. Ekosistem belajar diakuinya sangat mendukung.

Fatimah pun mampu mengembangkan potensinya. ”Di SMK NU Banat itu menerapkan Kurikulum Merdeka. Jadi, untuk tata busana dibagi dua, yakni kelas kreasi dan kelas produksi. Kelas kreasi ini kelas unggulan membuat desain, lalu yang mengembangkannya kelas produksi. Jadi, kita tidak hanya belajar jahit, tetapi juga diajari membuat brand, komunikasi, digital marketing, dan sebagainya,” papar Fatimah, Jumat (29/7).

Fatimah makin mantap menekuni dunia fashion design. Apalagi, usai melihat antusias masyarakat terhadap karya rancangannya yang selalu mendapat sambutan positif.

”Saat acara Muffest 2022 di Jakarta malah bajunya sudah habis dipesan sebelum fashion show. Jadi, kami harus telepon bagian produksi di Kudus untuk kirim ke Jakarta,” ujar Fatimah.

Fatimah tidak sendirian. Dia berkolaborasi bersama kakak kelasnya, Nadia, sebagai konseptor utama untuk tema luwur.

”Gagasan utamanya dari saya dan Kak Nadia, kemudian proses pengembangannya dilakukan bersama-sama dengan tim,” aku Fatimah.

Tema luwur terinspirasi Buka Luwur tradisi masyarakat Kudus. Luwur merupakan kelambu atau kain putih yang digunakan sebagai penutup makam Sunan Kudus, yang setiap setahun sekali dibuka untuk diganti.

”Karena tren forecasting tahun ini, kan spirituality yang berpijak pada nilai-nilai tradisi, budaya, tetapi kami ambil yang tidak jauh-jauh dari Kudus. Jadi, ya kami ambil luwur,” ujar Fatimah.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek Kiki Yuliati menuturkan, karya-karya yang ditampilkan para siswa SMK NU Banat Kudus menjadi contoh. Diharapkan memotivasi siswa sekolah lain untuk berkarya dan berprestasi.

”Saya percaya siswa Indonesia bisa menghasilkan karya yang mendunia seperti SMK NU Banat Kudus ini yang prestasinya memang sudah banyak, baik di level nasional maupun internasional,” tutur Kiki. (jawapos)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Lain-nya