by

Pemda Salurkan Bansus Korban Kerusuhan Pemekaran

MURATARA – Pemerintah Kabupaten Muratara gulirkan bantuan khusus (Bansus) bagi keluarga korban pemekaran kabupaten Muratara. Realisasi dana itu tidak dianggarkan secara langsung oleh Pemerintah daerah, namun dari hasil sumbangan sukarela seluruh OPD yang ada di kabupaten Ini.

Realisasi penyaluran Bansus itu, dilakukan Kamis (28/4) sekitar pukul 08.00 WIB di rung bina Praja kabupaten Muratara yang di pimping secara langsung wakil Bupati H Inayatulllah dan kepala Dinas Sosial Muratara, erdius Lantang.

Menurut wakil Bupati Muratara, H Inyatullah ini merupakan bentuk perhatian khusus Pemerintah Daerah terhadap keluarga korban kerusuhan pemekaran. Moment ini diharapkan, akan diperingati setiap tahunnya setiap 28 April.

“Bantuan ini dari sumbangan rekan rekan OPD, memang tidak dianggarkan tapi ini harus menjadi moment khusus bagi kita semua. Dan tiap tahun harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Untuk korban pemekaran yang meninggal dunia, mendapat santunan Rp2 juta rupiah, bagi korban yang luka luka mendapat satunan Rp1 juta rupiah dan mendpaatkan bingkisan sembako.

Total penerima bansus tersebut sekitar 17 orang. Wakil Bupati Muratara, menegaskan, moment ini harus menjadi edukasi sekaligus menimbulkan dampak sosial bagi masyarakat dan mesti diperingati setiap tahun.

“Keluarga korban harus ikut andil ikut membangun Muratara, siapapun pemimpin Muratara ke depan tetap harus memperingati momen pemekaran ini,” tegasnya. Sebelumnya, Irmawati istri almarhum Nikson yang sempat dibincangi di seputar Pemda Muratara, menuturkan saat ini kabupaten Muratara sudah lebih maju dari sebelumnya.

Namun dia masih mengenang, sejumlah pristiwa yang menewaskan suaminya, saat ikut demo pemekaran Kabupaten Muratara, 29 April 2013 lalu.

Saat itu, aksi demo dilakukan di tegah jalan lintas Sumatera persisnya di simpang empat kelurahan Muara Rupit dan melibatkan sejumlah tokoh, aktivis asal Muratara seperti Sarkowijaya, Redi kosasih, maupun ketua suku anak dalam japarin. 

“Aku waktu itu dak khawatir suami ayuk ikut demo, abis magrib ricuh aku dapat kabar jam 9 malam suami aku tewas tetembak,” ceritanya. Sejak saat itu Irma mengaku menjadi Singgle Parent menghidupi tiga anaknya.

“Harapan kami pristiwa itu bisa selalu dikenang warga di Muratara, karena pemekaran Muratara ini 4 korban jiwa,” tegasnya. Pihaknya juga berharap, agar pemerintah merealisasikan pebangunan tugu pemekaran untuk memperingati korban korban yang meninggal dan luka luka saat merintis pemekaran di Kabupaten Muratara.(cj13)

        

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Lain-nya