by

Seragam Tak Muat, Sepatu Rusak

Kemarin, digelar lagi simulasi pembelajaran tatap muka (PTM). Ada cerita-cerita unik dari siswa. Sebab, saking lamanya pembelajaran daring alias sekolah di rumah.

SEPERTI cerita dari Andika Arjuna Wijaya, siswa kelas V SD 1 Jepang. Dia terakhir sekolah tatap muka saat kelas III atau pada 2019. Dan kini masuk lagi sudah kelas V. Selama sekolah daring ia merasa jenuh. Belum lagi menghabiskan kuota.

Saat mengikuti simulasi PTM terbatas kemarin, Andika mengenakan seragam pramuka dan sepatu baru. Sebab, seragamnya sudah tidak muat. Sedangkan sepatu sebelumnya sudah rusak. Hanya tas yang tidak baru, karena masih bagus dan layak dipakaii.

”Sepatu rusak, karena lama tidak saya pakai. Ini (sepatu baru, Red) saya beli pas malam Minggu (21/8). Senang rasanya bisa sekolah lagi. Bisa bertemu dengan kawan-kawan. Tidak menghabiskan uang beli kuota. Cukup uang saku Rp 10 ribu,” celetuk sambil masih mengenakan masker dan face shield.

Siswa kelas V SD 1 Jepang lain, Cahya Natasya Septia Anggraeni tidak mengenakan sepatu. Melainkan sandal bangkol. Namun tetap mengenakan kaus kaki. ”Sepatu saya sesak, tapi belum sempat beli. Jadi saya pakai sandal dan diperbolehkan, karena modelnya kaya sepatu. Saya tetap pakai kaus kaki,” kata siswi yang mengenakan seragam pramuka dan berkerudung meski tidak baru ini.

Simulasi kali pertama di SD 1 Jepang kemarin itu, dikunjungi Bupati Kudus Hartopo. Ia memberikan pengarahan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) dan dibentuk satgas Covid-19 di lingkungan sekolah.

”Idealnya ada empat yang bertugas khusus dan mengenakan rompi satgas. Sebenarnya seluruh guru sudah masuk dalam satgas Covid-19, tapi harus ada yang selalu standby dan mengawasi kondisi siswa dan guru,” paparnya.

Satgas Covid-19 berjaga di pintu gerbang dan di dalam sekolah. Para guru juga diminta proaktif menjadi satgas Covid-19 di dalam kelas.

Selain itu, sekolah-sekolah yang melaksanakan PTM diminta untuk menyusun standar operasional prosedur (SOP) terkait prokes. SOP tersebut kemudian disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah untuk diterapkan sehari-hari.

Kepala SD 1 Jepang Kudus Ngatono menerangkan, kemarin yang ikut simulasi PTM terbatas hanya siswa kelas V dan VI. Totalnya 28 siswa dari jumlah siswa keseluruhan 142 siswa.

”Untuk kelas I sampai IV masih menunggu petunjuk dari Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus. Kalau diperbolehkan seluruhnya masuk, pekan depan nanti kami atur lagi,” ungkapnya.

Selain di SD 1 Jepang, simulasi PTM juga digelar di dua sekolah lain, SMP 4 Kudus dan SMP 2 Mejobo. Pekan depan, rencananya digelar serentak seluruh sekolah. Pelaksanaan simulasi ini, menyusul Kudus berstatus level 2 atau zona kuning.

Terpisah, Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widada mengatakan, simulasi PTM terbatas kalau ada siswa yang tidak mengenakan seragam tidak dipermasalahkan. Karena bisa saja memang sudah tidak muat dan belum sempat membeli.

”Nanti kalau sudah diberlakukan PTM sepenuhnya atau bukan lagi simulasi, ya harus mengenakan seragam, meski sudah berada di kelas akhir,” terangnya.

Sementara itu, di Grobogan, Kepala SMAN 1 Godong Sarwaedi mengungkapkan, pihaknya langsung membikin tim PTM begitu mengetahui sudah ada restu dari Pemprov Jateng. Dia menyebut, untuk infrastruktur prokes sudah siap sejak lama. ”Tinggal izin dari pihak satgas Covid-19 dan izin orang tua. Untuk masker, tempat cuci tangan, thermogun, dan sudah siap,” terangnya kemarin.

Dia menyebut, nantinya hanya 50 persen siswa yang akan berada di kelas. Dengan adanya sesi pagi dan siang, maka dalam satu waktu hanya 10 persen siswa yang berada di sekolah. Dari total 1.160 peserta didik, hanya 108 siswa di tiap sesi.

”Teknisnya, mereka harus berangkat sendiri ke sekolah atau di antar orang tua. Tidak boleh di antar orang yang bukan serumah,” katanya.

Di sisi lain, Kepala SMPN 1 Purwodadi Purnyomo mengaku beberapa waktu lalu dicurhati orang tua peserta didik menyusul diberhentikannya PTM setelah sepekan berlangsung. Di Kota Swike, sejumlah sekolah tingkat SD dan SMP memang sempat menggelar PTM selama sepekan. Namun kemudian turun surat dari Dinas Pendidikan (Dindik) Grobogan yang meminta seluruh PTM berhenti pada Senin (22/8) lalu.

”Ada orang tua curhat seperti kena prank. Kecewa (PTM berhenti). Sudah beli seragam dan sepatu kok tidak jadi sekolah. Kalau sekolah kan minimal anak-anak senang hatinya. Tidak di rumah terus,” tuturnya kemarin.

Purnyomo mengaku, baru tahu Pemprov Jateng sudah memperbolehkan pelaksanaan PTM lagi justru dari koran ini. Pihaknya langsung bertanya ke Dindik Grobogan dan dijawab sedang menyiapkan izin ke Satgas Penanganan Covid-19 tingkat kabupaten. (ks/san/ful/lin/top/JPR/radarkudus)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lain-nya